Home » , » Mencetak Remaja Berakhlak Mulia

Mencetak Remaja Berakhlak Mulia

Posted by M. Jamil, S.H. on Senin, 08 Februari 2010

Setiap orang tua sudah pasti mendambakan anak yang memiliki akhlak terpuji. Bahkan saat masih dalam kandungan, hati dan bibir orang tua selalu gemetar dengan doa agar sang jabang bayi lahir dengan selamat dan kelak mewarisi akhlak yang mulia. Di waktu tangisan pertama saat melahirkan, tak henti-hentinya orang tua terus berdoa sambil mengucap rasa syukur di hati.

Lalu ringis-teriris hati orang tua, terutama ibu, ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa anaknya tumbuh dan besar dengan hingar-bingar pergaulan remaja masa kini yang menghambakan diri pada alkohol, minuman keras, sabu-sabu, ganja, heroin dan barang haram lainnya. Ditambah lagi judi, suka mengambil yang bukan haknya (maling/rampok), berpanas darah dengan saling menghujat, baku hantam, tusuk menusuk. Lengkap sudah penderitaan orang tua. Sungguh, itu semua di luar kehendak dan jauh dari doanya selama ini.

Namun, sungguh mulia hati orang tua yang meski nyata-nyata menyaksikan anaknya terjerumus, tetap selalu berdoa dan menyayanginya. Lalu, bagaimana mungkin seorang anak berani membentak orang tuanya meski dengan kata “ah”, apalagi sampai menghujat, memaki, mencibir, menampar atau bahkan sampai memukulnya hingga kepala di kaki, kaki di kepala (babak belur). Ada memang anak seperti itu, tapi apakah pantas ia menyandang gelar “anak” dari kemuliaan hati seorang ibu, dari rasa pengayom seorang bapak. Sungguh, ia bukan cuma tidak pantas menyandang gelar anak, tapi juga tidak pantas untuk dimaafkan.

Memang, kenyataan “menyimpang” seorang anak semacam ini sepenuhnya bukan kesalahan dari pihak anak itu sendiri. Banyak faktor yang turut mempengaruhi. Bisa dari lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, masyarakat maupun keangkuhan dari anak itu sendiri. Ketiga pengaruh pertama sebagai faktor eksternal (datang dari luar), dan yang terakhir sebagai faktor internal (datang dari dalam diri anak). Tentu saja, kedua faktor ini dapat dihindari dan diobati dengan menanamkan nilai-nilai moral dan agama semenjak bayi, menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung perkembangan mental, fisik dan kerohaniannya, sampai kepada pengawasan dan pengendalian pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar dan proporsional (sesuai dengan kemampuan anak) selama masa pertumbuhan, masa akil baliq, sampai melewati masa remaja. Ini semua adalah proses mendidik dan mengajar, memberi pemahaman dan penjelasan-penjelasan yang rasional (masuk akal) tentang segala hal dengan dukungan akidah yang kuat.

Yang perlu diperhatikan orang tua, bahwa mendidik adalah proses yang ilmiah (masuk akal dan sesuai dengan pengalaman/belajar dari pengalaman). Sifatnya mendidik adalah memberi penjelasan yang sesuai dengan kenyataan dan jalan pikiran anak. Karena itu, mendidik bukan memarahi, mencaci maki, bukan pula sumpah serapah (mendoakan yang bukan-bukan), apalagi memukul dan menghantam. Sebagian besar dari kita, mendidik dengan cara yang terakhir inilah yang sering diterapkan.

Untuk itu, marilah kita sama-sama sadar, baik yang berperan sebagai anak maupun sebagai orang tua bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itu justru menjadi sumber malapetaka selama ini. Mari kita mulai merubah peran kita. Mari kita mengasah dan merubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak membawa safaat, merugikan diri, keluarga, masyarakat, dunia dan akhirat. Bagi yang baru berfikir untuk berubah mari segera merubahnya. Bagi yang sudah, mari terus meningkatkannya dengan terus mencari pengalaman dan ilmu agar terus meningkat. Kalau bukan sekarang, siapa yang menjamin esok kita masih melihat matahari terbit. Kalau bukan diri kita, orang lain tidak akan melakukannya. Mari kita bersama berjuang, untuk kebaikan diri kita, keluarga, dan masyarakat kita hari ini, esok dan di hari yang lain (akhirat). Yakinlah, Allah SWT mengiringi langkah dan niat baik kita. Amin!

Membaca judulnya seolah heboh. Tapi tidak demikian setelah mengikuti jalannya seminar pagi ini. Begitu segar dan menyenangkan. Seminar ini diselenggarakan oleh BEOM AL IZHAR dalam rangka milad Perguruan Islam ini, saya sendiri mendapatkan undangan dari sahibul bait Ibu Kemala J Chandra .

Pembicara utama seminar ini adalah Dra Nuki Nurdadi Msi dari Universitas Indonesia, dan dipandu oleh Bp Krisna Purwana, pengamat sosial - pakar penyiar radio swasta, yang kebetulan juga kawan saya dan sudah lama tidak jumpa.
Saya sendiri berkesempatan untuk sharing sebagai panelis mewakili orang tua dengan putra-putri usia remaja/dewasa. (bersama dengan beberapa panelis lainnya). Pesertanya terdiri dari berbagai sekolah favorite wilayah sekitar, seperti SMU Labskul Kebayoran, SMA Negeri 34, High Scope Indonesia, Sekolah Islam Al Ikhlas dan SMA Al Izhar sendiri sebagai tuan rumah.      

Ibu Nuki membahas berbagai masalah remaja yang intinya sedang dalam masa pencarian/pembentukkan identitas diri. Hal ini ditunjang dengan kondisi seperti kemampuan berpikir yang mengembang, teman menjadi sesuatu yang berarti, komunikasi dengan orang yang sudah diwarnai oleh berbagai penolakan maupun jarak, kamar adalah sesuatu yang berarti, moody, peer-group berpengaruh, cara pberpakaian/penampilan yang berubah, motivasi akademik yang umumnya menurun dan cenderung malas pada penugasan –penugasan.

Kemampuan berfikir sebetulnya dikarenakan bahwa mereka tidak lagi berfikir ‘here & now’, namun mereka telah memiliki kemampuan untuk melakukan abstraksi, testing hypothesis dan kemampuan dalam melihat kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas.
Lalu dari sisi orang tua, ada beberapa kecenderungan ‘gaya’ dalam pembentukan identitas remaja. Orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis yang cenderung dapat mempermudah pencapaian identity achievement, ada juga orang tua yang otoriter, maupun gaya orang tua yang permissive yang akan membuat remaja mengalami identity diffusion (crisis leading to commitment).
Wah, jangan-jangan banyak diantara kita sebagai orang tua yang kurang menyadari hal ini.
Banyak lagi teori yang disampaikan oleh Ibu Dra Nuki, namun yang saya sendiri share dalam kesempatan itu tidak ada yang baru. Sudah banyak hal mengenai pendidikan keluarga dan sosial yang saya share dalam tulisan-tulisan saya di blog ini maupun di blogspot. Namun quote yang saya sampaikan diakhir seminar antara lain adalah, bagaimana kita memelihara suasana hati yang tenang sehingga apapun yang menjadi permasalahan mereka dapat diatasi sendiri oleh mereka dengan ketenangan pula. Tiap anak memiliki keunikan yang berbeda. Biarkan mereka memiliki IMPIAN-IMPIAN, kita sebagai orang tua cukup mengawal bagaimana mereka mencapai impian mereka masing-masing. PRESTASIpun demikian, setiap anak memiliki minat dan prestasinya sendiri. Jangan pernah membandingkan satu dengan yang lainnya. Yang terakhir, jadilah teman untuk anak-anak kita, dan jadilah teman untuk teman-teman anak kita. Perjalanan saya sendiri dalam mendidik masih sangat panjang dan tiada akhir sampai Allah meminta kita kembali. Pendidikan adalah sebuah proses, dan pendidikan adalah amanah. Wallahualam.

Tulisan ini diambil dari Buletin FIMNY.
Sumber Gambar: rodjaberau.com

SHARE :
CB Blogger

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 M. Jamil, S.H.. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by www.phylopop.com