Follow Me

Google+ Followers

Like Fun Page

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Translate

Kontribusi Hukum Pidana Islam dalam Hukum Nasional

Kontribusi Hukum Pidana Islam dalam Hukum Nasional (1)

By M. Jamil (2)

Latar Belakang Kebijakan Pembangunan Hukum di Indonesia
 Tahap unifikasi; industrialisasi, welfare state; bersamaan sekaligus
 Gerakan politik Islam (Islam ideologis/ Islam politik)– pasang surut dalam setiap periode pemerintahan:
- Orde lama (perimbangan ideologi Islam, Nasionalis dan Komunis)
- Orde Baru: penekanan terhadap Islam ideologis; muncul gerakan Islam kultural dan Islam moderat –memperjuangkan Islam subtansial
- Pasca-Reformasi: rezim sisa orba (Partai Golkar), kekuatan baru (PDI), poros tengah (Partai2 Islam); gerakan Islamis muncul kembali baik melalui partai maupun ormas, gerakan mahasiswa
Perjuangan Penerapan Hukum Islam di Indonesia
 Kelompok Islam Legal Formal; pemikiran tradisional dan fundamental; ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah; meliputi:
- Partai: PPP, PBB, (PKS – fundamental modernis)
- Ormas: MMI, HTI, FPI
 Kelompok Islam substansial; pemikiran moderat; menerapkan nilai-nilai Islam dalam hukum Nasional; meliputi:
- Partai: PKB, PAN
- Ormas: NU, Muhammadiyah dll
Islamic Law Reform in The Muslim countries
 The first period: in the personal law and family law
 The second period: Islamic Banking and Finance
 Hukum pidana Islam???
- Di Sudan diterapkan; terjadi konflik antara Sudan Utara dan Sudan Selatan
- Indonesia; di Aceh (NAD) dengan otonomi khusus
Hukum Pidana Islam?
 Pemikiran tradisional dan fundamental:
- Fiqh jinayat:
--hudud (pidana yg hukumannya telah ditetapkan dalam nash) diantaranya pencurian: potong tangan; zina: rajam/ jild; qazaf: jild; minum khamr: jild; riddah: hukum mati; hirabah: potong kaki dan tangan
--qishash dan diyat, untuk pembunuhan dan penganiayaan (membunuh jiwa dibalas dengan jiwa, melukai mata dibalas dengan mata, gigi dengan gigi, dll.)
--diyat (pidana yang hukumannya diserahkan kepada Imam; karena tidak disebutkan hukumnya secara tegas dalam nash)
Pola pikir: metode tekstual (istinbath al-hukm al-lafzi)

 Pemikiran moderat:
- Reinterpretasi fiqh jinayat/ pemikiran hukum pidana Islam
- Menggunakan metode konstekstual dalam rangka pembacaan kembali terhadap konsep fiqh jinayah; misalnya pemikiran an-Naim; teori had Syahrur; teori double movement Fazlurrahman dll

Hukum Pidana Nasional
 WvS Indonesia, 1946; dari WvS warisan Belanda
 Diterapkan hingga saat ini
 Telah ada upaya untuk membuat kodifikasi baru – KUHP Indonesia; legislasi belum terwujud
 Upaya memasukkan nilai-nilai hukum pidana Islam dalam konsep KUHP Indonesia?
Contoh: konsep delik perzinahan

Konsep Hukum Islam
Values
Moral prinsiples
Moral norms
Legal norms
Legal rules
 Hukum Islam; tidak memisahkan antara hukum dan moral
 Hukum untuk menegakkan moral; bukan hanya sekedar ketertiban dan keamanan

Aspek Hukum Pidana
 Kriminalisasi: menentukan bentuk dan macam delik
 Pemidanaan: untuk pembalasan/ penjeraan/pendidikan dan pembinaan
 Penegakan hukum
Perjuangan hukum Islam?
 Gerakan Islam kultural
 Gerakan Islam modernis
 Gerakan Islam fundamentalis
Semua ingin menerapkan hukum Islam dan hukum pidana Islam, dengan konsep dan strategi perjuangannya masing-masing

sumber:
Sri Wahyuni, M.Ag., M.Hum.2010/dapat juga anda liha di www.sriwahyuni-suka.blogspot.com

catatan kaki:
(1) Materi ini pernah disampaikan pada Seminar Hukum yang diadakan oleh HIMA-ILMU HUKUM Fakultas Syariah&Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Tanggal 27 Maret 2010 di Ruang Teatrikal Syariah&Hukum.
(2) Salah satu Panitia dalam Seminar Hukum yang diadakan oleh HIMA-ILMU HUKUM Fakultas Syariah&Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Tanggal 27 Maret 2010 di Ruang Teatrikal Syariah&Hukum.

Soal UTS Bahasa Inggris UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010

MIDTERM TEST
CENTER FOR LANGUAGE
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
APRIL 2010

A.LISTENING COMPREHENSION
PART A.

Directions: You will hear questions in English. The questions will not be repeated. After you hear each question, read four possible answers in your test sheet and choose the best answer. Then, on your answer sheet, find the number of the question and fill in the space that corresponds to the letter of the answer you have chosen.
Now begin work on the questions!
Questions 1 - 5
1.So, what does your father do for a living?
(A)He lives in Yogyakarta
(B)His name is Muhammad
(C)He is a teacher
(D)He loves UIN SUKA very much

Kunci Jawabannya = A

2.How many………….are in your family?
(A)There are five people in my family
(B)My father has two brothers
(C)My sister is not married
(D)We are a harmonious family

Kunci Jawabannya = C

3.How………….. is your…………..?
(A)Since 1978
(B)She turned 10 in May
(C)They are seventeen
(D)She is a university student

Kunci Jawabannya = B

4.Where …………..?
(A)They are both lawyers
(B)They live in Yogyakarta
(C)They are from Kalimantan
(D)They love Arabic very much

Kunci Jawabannya = D

5.How many …………..?
(A)I am single
(B)I live with my brothers
(C)I have two sisters
(D)I study in Tarbiyah Department

Kunci Jawabannya = D

PART B
Directions: You will hear a narration in English. The narration will not be repeated. After you hear the narration, read the questions and four possible answers in your book and choose the best answer. Then, on your answer sheet, find the number of the question and fill in the space that corresponds to the letter of the answer you have chosen.
Now begin work on the questions!
Questions 6 – 10
6. Being on time is……………
(A)import
(B)importing
(C)important
(D)imported

Kunci Jawabannya = A

7. You should ….. 5 to 10 minutes early for meetings and appointments.
(A)attend
(B)alive
(C) arise
(D) arrive

Kunci Jawabannya = D

8. Arrive 5 to 10 minutes early for job ……..
(A)interviews
(B)interlined
(C)reviews
(D)internets

Kunci Jawabannya = B

9. What you respect when you arc on time?
(A)books of others
(B)others
(C)houses of others
(D)the time of others

Kunci Jawabannya = B

10. What will probably happen if you are late for an interview?
(A)it may be cancelled
(B)everybody will be happy
(C)you will be satisfied
(D)it may be rewarded

Kunci Jawabannya = E

B.STRUCTURE
Time: 25 minutes (including the reading of the directions). Now set your clock for 25 minutes.
Direction : Choose one best answer among the five options.

11. Assalamu'alaikum Faza, how's everything?
A.Everything is mine
B.Wa'alaikumussalam, I am Digit
C.Wa'alaikumussalam, I am here
D.Wa'alaikumussalam, let us go
E.Wa'alaikumussalam, not bad. How are you?

Kunci Jawabannya = E

12. Tsaqif! Please tell me about UIN Sunan Kalijaga!
A.My Brother studies at UIN Sunan Kalijaga
B.I love UIN Sunan Kalijaga very much
C.The Rector of UIN (Prof. Dr. H. Amin Abdullah, M.A.) comes from East Java
D.Let us go to UIN now
E.UTN Sunan Kalijaga has seven faculties; it is located in Jl. Marsda Adisucipto.

Kunci Jawabannya = E

13. Tata : Ma’sum, who are the two girls over there?
Isa : Oh,...... names are Septiani and Zahro
A.her
B.your
C.hers
D.their
E.theirs

Kunci Jawabannya = D

14. Minan : Hi, Emma, This is Nadia. …. from South Kalimantan
A.She were
B.She has
C.She are
D.She is
E.She.

Kunci Jawabannya = D

15. Dawud : Where …….you study, Mita?
Mita : I study at Department of Psychology of Faculty of Social and Humanity
A.did
B.are
C.does
D.have
E.do

Kunci Jawabannya = E

16. Fithrah : Wulan, who is the man standing there?
Wulan : Oh,…...name is Munif
A.their
B.his
C.he
D.her
E.your

Kunci Jawabannya = B

17. Andi : Ubaidah, what .....you do?
Ubaidah : I am a lecturer
A.are
B.did
C.do
D.your
E.he

Kunci Jawabannya = C

18. Fahrul : Nabil, what did you do last weekend ?
Nabil : Oh, I ……do anything special.
A.were not
B.don't
C.wasn't
D.am not
E.didn't

Kunci Jawabannya = E

19. Khodijah : Diana, did you go somewhere yesterday ?
Diana : Yes, I went shopping and I ……. some clothes.
A.buy
B.buying
C.buys
D.am buying.
E.bought

Kunci Jawabannya = E

20. Arifin :
Mani : I went to Surabaya by bus.
A.How did you go to Surabaya ?
B.Why did you go to Surabaya ?
C.How do you go to Surabaya ?
D.What did you do in Surabaya ?
E.When, did you go?

Kunci Jawabannya = A

21. Ria Ari, where ..... you born ?
Ari I was born in Palembang.
A.are
B.was
C.is
D.were
E.do

Kunci Jawabannya = D

22. Ayu : Nita, how…….your last holiday ?
Angga : It was terrific. I and my family had a picnic.
A.is
B.were
C.was
D.did
E.do

Kunci Jawabannya = C

23. Allah…….Prophet Muhammad to spread Islam.
A.sending
B.to send
C.Send
D.was vent
E.sell

Kunci Jawabannya = E

24. Febri : I am a guide. I take people on tours around Indonesia.
Valent : That sounds …….
A.interested
B.interests
C.interest
D.of interest
E.interesting

Kunci Jawabannya = E

25. “Yes, it is a great and challenging job. I…….
A.hate it
B.curse it
C.leave it
D.hide it
E.love it

Kunci Jawabannya = E

26.I am……. and I have a part-time job, too.
A.students
B.a student
C.a students
D.the students
E.a study

Kunci Jawabannya = B

27. Shoff : How do you spend your day, Najib?
Najib : Well, on weekdays I get up around ten…....the paper for an hour
A.Then I read
B.But I read
C.Although I read
D.Otherwise I read
E.Otherwise I read

Kunci Jawabannya = A

28. Nabawi : ……
Tesda : I start work at three.
A.Where do you work?
B.What time do you finish your work?
C.How do you go to work?
D.Why do you go to work?
E.What time do you go to work?

Kunci Jawabannya = E

29. Beni : Do women usually work after
Anisah : No, a lot of women stay home and take care of their families. But some work.
A.get they married?
B.married they get?
C.get they married?
D.married get they?
E.they get married?

Kunci Jawabannya = A

30. ……gets married before the age of 20.
A.Mary women
B.A lot of men
C.Most of Indonesians
D.No one
E.Some Europeans

Kunci Jawabannya = D

31. Susi and Sara …… the concert next week.
A.will see
B.saw
C.have seen
D.see
E.will sees

Kunci Jawabannya = A

32. The Quran is the literal word of God, which He ..... His Prophet Muhammad through the Angel Gabriel.
A.reveals to
B.reveals to
C.revealed to
D.revealing to
E.will reveal to

Kunci Jawabannya = C

33. I am going to the meeting and …..
A.so does Dave
B.so goes Dave
C.so is Dave
D.Dave is so
E.too is David

Kunci Jawabannya = C

34. ….. that there is no God but Allah SWT, they surrender to Him Alone.
A.Muslims was believing
B.Muslims believing
C.Muslims believe
D.Muslims belief
E.Muslims are believe

Kunci Jawabannya = C

35. My mother is the woman whom I love very much in my life,…….
A.I have a dream
B.We love English
C.He is great
D.They are happy
E.She is my superhero

Kunci Jawabannya = E

36. The town…….is not so big, but tidy, beautiful, and clean.
A.that I from
B.from which I am
C.whose I am from
D.from where I am
E.where I am from

Kunci Jawabannya = E

37. Pusat Bahasa UIN (UIN's Center for Language) has three thousand students each semester.
A.It is a wonderful day
B.I am a student of UIN
C.UIN applies Quality Assurance
D.It's a big number
E.E. It's nice to be a student

Kunci Jawabannya = D

38. The religion………….that there is no god but Allah SWT is Islam.
A.teaches
B.teaching
C.is teaching
D.who teaches
E.whom teaches

Kunci Jawabannya = A

39. Muslims, the people who follow the religion of Islam, pray in a Holy place …………..the Masjid.
A. calls
B. is calling
C. calling
D. call
E. called

Kunci Jawabannya = E

40. UIN Sunan Kalijaga ...... for the past flew years. There tire new buildings now. Sonic general disciplines are also available in the university.
A.Changes
B.Has changed
C.Is changing
D.Was changed
E.Changed

Kunci Jawabannya = B

READING COMPREHENSION
Time: 25 minutes (including the reading of the directions). Now set your clock for 25 minutes.
Direction: In this section you will read several passages. Each one is followed by several questions about it, you are to choose the one best answer, (A), (B), (C), (D) or (E), to each question. Then on your answer sheet, find the number of the question and fill in the space that corresponds to the letter of the answer you have chosen.

Questions 41-50.
The word Islam comes from the Arabic word that means "surrender." Therefore the religion Islam means "submission to Allah". The way to submit to Allah is through worshipping Him, obeying Him, following the rules in the Qur'an, and trying to follow the life of the prophet Muhammad.
People who follow this religion are called Muslims. They believe in only one God, That God is called Allah, which is the Arabic phrase for "the (only) God". Muslims read a holy book called the Qur’an. Muslims also look at the Sunnah and Hadith as important guides to understand. Muhammad was the last messenger of God who spread Islam in ancient Arabia in the 7th century. Like two other religions today, Judaism and Christianity Islam is thought to be an Abrahamic religion, because the three religions are believed to have been started by Abraham. In all three religions, Abraham is one of God's earliest messengers. Islam is now the second largest religion in the world with about one and a half billion followers.

41. The word Islam which means "surrender" derives from......
A. Sanskrit word
B. Persian word
C. French word
D. Greek word
E. Arabic word

Kunci Jawabannya = E

42. What is the author's main point in the first paragraph?
A.The meaning of Holy Qur'an
B.The meaning of Islam
C.The religion embraced by Arabians.
D.The Arabic Word
E.Prophet Muhammad

Kunci Jawabannya = B

43. Which of the following is NOT mentioned as the way to submit to Allah?
A.By following the life of the prophet Muhammad.
B.By obeying Him
C.By worshipping Him
D.By following the rules in the Qur'an
E.By doing harm to others.

Kunci Jawabannya = E

44. The word "rules" in line 3 is closest in meaning to
A.Commands
B.Confessions
C.C. revelations
D.D. understandings
E.Memories

Kunci Jawabannya = A

45. The phrase "this religion" in line 4 refers to.....
A.Holy Qur'an
B.Islam
C.Allah SWT The only God.
D.D. All are wrong
E.Submission to Allah SWT.

Kunci Jawabannya = B

46. What can be inferred about Allah SWT described in the second paragraph?
A.He is the Most Compassionate and the Most Merciful
B.He is All-Seeing and All-Hearing
C.There is no God but Allah SWT.
D.Allah S WT is the Creator of universe.
E.All sent Muhammad to all humankinds.

Kunci Jawabannya = C

47. According to the passage, besides Holy Qur'an sent by Allah to Prophet Muhammad, Sunnah and Hadith are
A.The guides for the Ancient Arabians
B.The sources of Islam
C.The heritage of Prophet Muhammad
D.The sayings of earliest apostles
E.The miracles from prophet Muhammad

Kunci Jawabannya = B

48. Where in the passage does the author mention the faith of Muslims?
A.Lines 1-2
B.Lines 4 -5
C.Lines 5-6
D.Lines 9-10
E.Line 3

Kunci Jawabannya = B

49. According to the passage, the followers of Islam now are.......
A.less than I billion people
B.one billion people
C.more than one billion people
D.a half billion people
E.small numbers of people

Kunci Jawabannya = C

50. Which of the following would be most probably discussed in the following passage?
A.The followers of Islam
B.The Abrahamic Religion
C.The Sunnah and Hadits
D.The ancient Arabia
E.The recognized religions

Kunci Jawabannya = A

Questions 51-55
One day Nasruddin Hoja borrowed a pot from his neighbor Ali. The next day he brought it back with another little pot inside. "That's not mine," said Ali. "Yes, it is," said Nasruddin Hoja. “While your pot was staying with me, it had a baby.”
Some time later Nasruddin Hoja asked Ali to lend him a pot again. Ali agreed, hoping that he would once again receive two pots in return. However, days passed and Nasruddin Hoja had still not returned the pot. Finally Ali lost patience and went to demand his property. "I am sorry," said Nasruddin Hoja. “I can't give you back your pot, since it has died.” "Died!" screamed Ali, "how can a pot die?" "Well," said Nasruddin Hoja, "you believed me when I told you that your pot had had a baby."

51. Who was the owner of the pot?
A.Nasruddin Hoja
B.no body owns it.
C.the baby
D.Ali's neighbor
E.Ali

Kunci Jawabannya = E

52. How many times did Nasruddin Hoja borrow the pot?
A.once
B.four times
C.three times
D.never
E.twice

Kunci Jawabannya = E

53. How many pots did he give back the first time?
A.none
B.one
C.two
D.three
E.four

Kunci Jawabannya = C

54. Why was the neighbor happy to lend his pot a second time?
A.He wanted to sell it.
B.He was a good neighbor.
C.He had lots of spare pots.
D.He needed money
E.He was greedy.

Kunci Jawabannya = E

55. How many pots did Nasruddin Hoja return the second time?
A.None
B.three
C.two
D.four
E.one

Kunci Jawabannya = A

56. What probably happened to the pot?
A.It died.
B.The neighbor took it back.
C.Nasruddin Hoja kept it.
D.The neighbor broke it.
E.Nas,-uddin sold it

Kunci Jawabannya = C

Questions 57-60.
Motivation is a desire to achieve a goal, combined with the energy to work towards that goal. Students who are motivated have a desire to undertake their study and complete the requirements of their course.
A motive is an impulse that causes a person to act. Motivation is an internal process that makes a person move toward a goal. Motivation, like intelligence, can't be directly observed. Instead, motivation can only be inferred by noting a person's behavior.
Being a motivated student doesn't mean you are always excited or fully committed to your study, but it does mean you will complete the tasks set for you even when assignments or practical’s are difficult, or seem uninteresting.

57. Motivation is understood as ……
A.an energy
B.a goal
C.a person's behavior
D.personal intention
E.a desire to achieve a goal

Kunci Jawabannya = E

58. The first paragraph discusses which of Me following?
A.The meaning of motivation
B.The factors of motivation.
C.a person's behavior
D.Students' motivation
E.The requirements of the course.

Kunci Jawabannya = A

59. The best title of the passage is……………
A.Achieving a goal
B.Motivation
C.An impulse
D.Intelligence
E.The Desire

Kunci Jawabannya = B

60. The word “it” (It does not mean you will complete the tasks) in line 8 refers to …………
A.the students
B.the tasks
C.difficult assignments
D.uninteresting tasks
E.being a motivated student

Kunci Jawabannya = E

GOOD LUCK!!!

Sumber:
…….….., 2010, Kisi-Kisi Soal Bahasa Inggris Ujian Tengah Semester, Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Perkembangan Asas Praduga Tak Bersalah dalam Konteks Hukum Kontemporer

By Jamil [1]
Oleh : Romli Atmasasmita [2]

PengantarAsas hukum praduga tak bersalah, sejak abad ke 11 dikenal di dalam sistem hukum Common Law, khususnya di Inggeris, dalam Bill of Rights (1648). Asas hukum ini dilatarbelakangi oleh pemikiran individualistik–liberalistik yang berkembang sejak pertengahan abad ke 19 sampai saat ini. Di dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system/cjs) [3], berdasarkan sistem hukum Common Law (sistem adversarial/sistem kontest), asas hukum ini merupakan prasyarat utama untuk menetapkan bahwa suatu proses telah berlangsung jujur, adil, dan tidak memihak (due process of law). Asas praduga tak bersalah merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari prinsip due process tersebut. Friedman (1994) menegaskan bahwa, prinsip ”due process” yang telah melembaga dalam proses peradilan sejak dua ratus tahun yang lampau [4], kini telah melembaga di dalam seluruh bidang kehidupan sosial.
Di sektor kesehatan dan ketenagakerjaan, jika distribusi hak rakyat atau buruh tidak dilakukan sesuai dengan kewajibannya maka akan disebut sebagai melanggar prinsip ”due process of law”. Bahkan, prinsip tersebut telah menjadi bagian dari ”budaya (masyarakat) Amerika”, yang telah mengalami perubahan cepat sesuai dengan perubahan masyarakatnya dan perkembangan internasional yang terjadi sejak pertengahan abad 19 sampai saat ini. Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan keterangan yang akan memberatkan/merugikan dirinya di muka persidangan (the right of non-self incrimination), dan untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent).
Di dalam hukum acara pidana Belanda (1996), kepada tersangka/terdakwa hak seperti itu dijamin dan dilindungi sedemikian rupa sehingga jika penyidik memaksa keterangan dari tersangka/terdakwa, maka tersangka/terdakwa diberikan hak untuk mengajukan ”review” kepada ”examining judges” untuk memeriksa kebenaran ”review” dari tersangka/ terdakwa yang bersangkutan [5]. Kita apresiasi tim perancang RUU KUHAP (2007), di bawah pimpinan Prof. Andi Hamzah, yang telah memasukan ketentuan mengenai ”hakim komisaris” atau semacam ”examining judges” di dalam sistem hukum acara pidana Belanda, yang bertugas mengawasi dan memeriksa penyalahgunaan wewenang (abuse of power) penyidik dalam menjalankan tugasnya.
Begitu pula, dimasukkan ketentuan di mana penuntut umum memiliki wewenang koordinatif dan supervisi terhadap proses penyidikan oleh penyidik kepolisian; akan tetapi, di dalam sistem hukum acara pidana Belanda, juga pihak penuntut umum, wajib meminta pertimbangan ”examining judges” untuk memeriksa apakah kasus pidana tertentu yang bersifat berat, sudah memenuhi persyaratan bukti yang kuat untuk diajukan kemuka persidangan [6]. Bertolak dari KUHAP Belanda tersebut, jelas bahwa, sistem peradilan pidana yang berlaku telah mengadopsi sistem organisasi piramidal dengan sistem pengawasan berlapis. Hal tersebut dimungkinkan karena di dalam sistem hukum acara pidana Belanda, penuntut umum berada di dalam satu sistem organisasi kementrian kehakiman, dan kepolisian berada di bawah pengawasan penuntut umum.
Sistem hukum Acara Pidana Perancis (2000), kurang lebih sama dengan sistem hukum acara pidana di Belanda, hanya sistem hukum pidana Perancis mengadopsi sistem juri sedangkan di dalam sistem hukum acara pidana Belanda tidak digunakan sistem juri [7]. Menilik perkembangan ketiga sistem hukum acara pidana sebagaimana diuraikan di atas, tampak persamaan yang mencolok, yaitu lebih mengutamakan perlindungan atas hak individu, bukan hak kolektif (masyarakat), sekalipun anggota masyarakat atau masyarakat sebagai suatu kolektivitas, telah dirugikan oleh perbuatan tersangka.

TAFSIR HUKUM ATAS ASAS PRADUGA TAK BERSALAH
Hak seseorang tersangka untuk tidak dianggap bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan sebaliknya (praduga tak bersalah) sesungguhnya juga bukan hak yang bersifat absolut, baik dari sisi formil maupun sisi materiel, karena hak ini tidak termasuk ”non-derogable rights” seperti halnya hak untuk hidup atau hak untuk tidak dituntut dengan hukum yang berlaku surut (non-retroaktif). Bahkan UUD 1945 dan Perubahannya, sama sekali tidak memuat hak, praduga tak bersalah ; asas ini hanya dimuat dalam Pasal 8 UU Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan di dalam Penjelasan Umum UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP.
Rumusan kalimat dalam Pasal 8 UU Kekuasaan Kehakiman (2004), dan Penjelasan Umum KUHAP, adalah: ”Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya, dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Rumusan kalimat tsb di atas, berbeda maknanya secara signifikan dengan rumusan asas praduga tak bersalah di dalam Pasal 14 para 2, Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Hak Politik (1966), yang dirumuskan dengan kalimat singkat: ”Everyone charged with criminal offence shall have the right to be presumed innocent until proved guilty according to law”.
Konvenan tersebut tidak hanya menegaskan, harus dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan berdasarkan undang-undang; bahkan, tidak menegaskan juga masalah putusan yang memperoleh kekuatan hukum yang tetap, sebagai batas toleransi seseorang dapat dinyatakan bersalah. Pembuktian kesalahan seseorang berdasarkan berdasarkan sistem hukum Common Law sering ditegaskan dengan bunyi kalimat, ”proven guilty beyond reasonable doubt”, yang berarti, ”(Dinyatakan) Bersalah berdasarkan bukti-bukti yang sangat kuat atau tidak dapat diragukan sama sekali”; bandingkan dengan rumusan kalimat,” (Dinyatakan) Bersalah atas dasar putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.
Untuk mencegah tafsir hukum yang berbeda-beda di atas, tampaknya solusi realistik telah diberikan oleh Kovenan, yaitu dengan merinci luas lingkup atas tafsir hukum ”hak untuk dianggap tidak bersalah”, yang meliputi 8 (delapan) hak, yaitu:
1. hak untuk diberitahukan jenis kejahatan yang didakwakan;
2. hak untuk disediakan waktu yang cukup dalam mempersiapkan pembelaannya dan berkomunikasi dengan penasehat hukum yang bersangkutan;
3. hak untuk diadili tanpa ditunda-tunda;
4. hak untuk diadili yang dihadiri oleh yang bersangkutan;
5. hak untuk didampingi penasehat hukum jika yang bersangkutan tidak mampu;
6. hak untuk diperiksa dan memeriksa saksi-saksi yang berlawan dengan yang bersangkutan;
7. hak untuk memperoleh penerjemah jika diperlukan oleh yang bersangkutan;
8. hak untuk tidak memberikan keterangan yang merugikan dirinya atau hak untuk tidak dipaksa mengakui perbuatannya.
Sejalan dengan Konvenan tersebut, asas praduga tak bersalah harus diartikan, bahwa selama terhadap seorang tersangka/terdakwa diberikan secara penuh hak-hak hukum sebagaimana dirinci dalam konvenan tsb, maka selama itu pula perlindungan atas asas praduga tak bersalah, telah selesai dipenuhi oleh lembaga penegak hukum. Putusan pengadilan yang menyatakan seorang terdakwa bersalah yang didasarkan bukti-bukti yang tidak meragukan majelis hakim (akan kesalahan terdakwa), harus diartikan sebagai akhir dari perlindungan hukum atas hak terdakwa untuk dianggap tidak bersalah.

PERKEMBANGAN TAFSIR ASAS PRADUGA TAK BERSALAH (APTB) DALAM SISTEM HUKUM ACARA BELANDA DAN PERANCIS
Di dalam menyikapi asas praduga tak bersalah dan prinsip ”due process of law”, paradigma yang menjiwai penyusunan KUHAPerancis (UU tahun 2000,tertanggal 31 Mei) ternyata lebih maju (progresif) dari KUHAP Belanda (UU tahun 1996, tertanggal 7 Oktober), dan KUHAP Indonesia (UU Nomor 8 tahun 1981). HAP Perancis telah memperkuat hak-hak tersangka/terdakwa dan hak-hak korban sekaligus.Pasal 1. butir II, HAP Perancis menegaskan sebagai berikut: ” The judicial authorities watches over the investigation and guarantee of the victim’s rights during the whole of the criminal procedure”.[8] Bahkan di dalam Butir III, HAP Perancis, menegaskan: ”Any person suspected or prosecuted is presumed innocent as long as their guilt has not been established (perhatikan rumusan berbeda dengan UU Kekuasaan Kehakiman tahun 2004, dan penjelasan umum KUHAP).
Namun pada rumusan berikutnya KUHAP Perancis menegaskan beberapa pembatasan atas asas hukum tsb, sebagaimana disebutkan: “Measures of constraint that this person can be subjected to are taken by a decision, or under the effective control, of the judicial authority. They must be strictly limited to the needs of the procedure, proportionate to the gravity of the offence reproached and not attack the dignity of the person”. Perbedaan perumusan konsep praduga tak bersalah antara HAP Indonesia, Perancis dan Belanda, sekalipun berbeda secara gradual, akan tetapi secara substansiil memiliki makna yang sangat dalam terutama terhadap seseorang yang memiliki status tersangka/terdakwa. Apalagi dengan munculnya reaksi masyarakat yang penuh dengan proses stigmatisasi (Braithwaite, 1989).[9]
Berkaitan dengan pemaknaan tsb, sering timbul diskursus mengenai sejauh mana konsep praduga tak bersalah dapat diterima atau dilimitasi sehingga dapat memenuhi ekspektasi keadilan baik oleh tersangka/terdakwa maupun oleh masyarakat (korban) tanpa harus ada salah satu pihak yang merasa diperlakukan tidak adil. Jika dirunut kepada asal mula lahirnya konsep praduga tidak bersalah, maka konsep tsb menganut paradigma (individualistik) [10] perlindungan atas hak dan kepentingan pelaku kejahatan (offender-based protection), dan mengabaikan perlindungan atas hak dan kepentingan kolektif (masyarakat) yang menderita kerugian karena kejahatan ybs (korban ).[11]
Konsep praduga tak bersalah dalam Deklarasi PBB tersebut tidak menempatkan kesetaraan perlindungan antara kedua subjek hukum tersebut di atas, sehingga memunculkan reaksi berkelanjutan mengenai pentingnya konsep tentang ”Hak dan Kewajiban Asasi”. Sesungguhnya, Pasal 28 J UUD 1945 dan Perubahannya, telah menegaskan bahwa dalam pelaksanaan hak asasi tersebut, setiap orang wajib menghormati hak asasi mansia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Begitupula, di dalam Pasal yang sama, telah ditegaskan bahwa, setiap orang wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama,keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.
Jika pemikiran di atas dihubungkan dengan prinsip ”due process of law”, yang telah lahir dua ratus tahun yang lampau di Inggeris dan dikembangkan secara pesat di dalam sistem hukum Amerika Serikat (Anglo-saxon), justru konsep prinsip praduga tak bersalah sejak awal kelahirannya tidak cocok dengan sistem kehidupan sosial bangsa Indonesia. Bahkan secara implisit, dari sudut pandang UUD 1945, prinsip tsb mengandung sifat ’contradictio in terminis” karena selain mengandung prinsip ”fair and impartial trial” bagi pihak tersangka/terdakwa, akan tetapi sekaligus juga mengandung prinsip , ”unfair dan partial trial” terhadap pihak korban kejahatan. Prinsip ”praduga tak bersalah” sedemikian itu sangat sulit diterima secara logika hukum terutama menghadapi kejahatan yang berdampak luas dan sistematik dengan korban fisik dan immateril yang luar biasa secara kuantitatif, seperti kasus kejahatan lingkungan, kejahatan terorisme, tindak pidana korupsi, tindak pidana pencucian uang, atau kasus illegal loging serta kasus kejahatan transnasional.

REKONSEPTUALISASI TAFSIR ASAS PRADUGA TAK BERSALAH
Merujuk kepada filosofi dan substansi ketentuan Pasal 28 J UUD 1945, justru konsep HAM Indonesia, tidak murni menganut paham individualistik melainkan paham ”individualistik plus”, dalam arti hak dan kebebasan setiap orang dalam bingkai UUD 1945 harus diwujudkan untuk menciptakan harmonisasi kehidupan sosial, selain semata-mata demi dan hanya untuk kepentingan melindungi hak-hak indvidu. Dalam konteks UUD 1945, di dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, terminologi ”aku” dan ”engaku”, harus disublimasi menjadi, ”Aku dan Kita”. Kesemua itu harus ditujukan semata-mata untuk menciptakan kesejahteraan sosial bersama atau kesejahteraan sosial kolektif, bukan semata-mata individual.
Analisis tersebut di atas mendesak agar diperlukan re-konseptualisasi terhadap landasan pemikiran, asas praduga tak bersalah, dan prinsip ”due process of law” di dalam bingkai Negara Hukum Kesatuan RI. Berangkat dari analisis hukum atas konsep pemikiran tentang prinsip ”praduga tak bersalah” tsb, maka sepatutnya asas ”praduga tak bersalah”, dalam konteks kehidupan hukum masyarakat Indonesia, ditafsirkan secara proporsional dan selaras dengan perubahan paradigma mengenai karakter sistem hukum pidana modern, yang telah bergeser dari paradigma lama, ”Daad-Dader Strafrecht”[12] kepada paradigma baru, ”Daad-Dader-Victim Strafrecht”.
Tafsir terhadap prinsip praduga tak bersalah, yang yang sejalan dengan perubahan paradigma tsb di atas, adalah, negara wajib memberikan dan memfasilitasi hak-hak seseorang yang di duga telah melakukan suatu tindak pidana sejak ditangkap, ditahan dan selama menjalani proses penyidikan,penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan baik pada tingkat pertama dan pada tingkat banding. Praduga tsb selanjutnya berhenti seketika pengadilan memutuskan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan dan dihukum pidana sementara waktu dan atau pidana denda. Mengapa demikian?
Karena proses pemeriksaan pengadilan yang ”fair and impartial” telah dilalui terdakwa dan dibuka seluas-luasnya terhadap terdakwa oleh pengadilan sehingga kemudian majelis hakim atas dasar alat-alat bukti yang disampaikan di persidangan, dan keterangan saksi-saksi (a charge dan a de-charge) telah memunculkan keyakinan mereka untuk menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang telah mengakibatkan timbulnya korban baik kerugian materiel maupun imateriel. Status terdakwa yang dilindungi oleh asas praduga tak bersalah selesai setelah putusan pengadilan telah menyatakan terdakwa bersalah, sekalipun terdakwa mengajukan upaya hukum, banding atau kasasi.
Rekonseptualisasi prinsip praduga tak bersalah disarankan di atas masuk akal, proporsional, dan sesuai dengan prinsip keadilan yang bersifat distributif dan komutatif (Aristoteles)[13] serta sejalan dengan perkembangan sistem hukum pidana modern saat ini. Di Belanda, perhatian terhadap korban kejahatan,selain kepada tersangka/terdakwa; telah diperkuat dengan UU tentang Kompensasi terhadap Korban Kejahatan tahun 1993 (Criminal Injuries Compensation Act) yang menetapkan bahwa korban kejahatan dapat menuntut ganti rugi termasuk ahli warisnya di dalam proses peradilan pidana. Dengan UU tersebut sekaligus melindungi saksi-saksi pelapor dari ancaman pihak lain.[14]
Perubahan kebijakan hukum pidana Belanda (1996) dalam menghadapi kejahatan, yaitu, antara lain, telah mencantumkan ketentuan mengenai ”transactie” (transaksi) di dalam Pasal 74 KUHP Belanda (1996). Di dalam ketentuan tsb, kepada penuntut umum telah diberikan diskresi untuk mencegah seseorang tersangka kejahatan serius di dakwa di muka sidang pengadilan, kecuali untuk kejahatan yang diancam lebih dari 6 (enam) tahun. Persyaratan untuk memasuki tahap ini antara lain, tersangka telah membayar sejumlah uang kepada negara; mencabut hak kepemilikan ybs atas harta benda tertentu; telah menyerahkan barang-barang yang menjadi objek penyitaan atau membayar sejumlah nilai barang tersebut kepada negara, atau telah memberikan kompensasi penuh atau sebagian kerugian yang disebabkan kejahatan yang telah dilakukannya.[15]

PENUTUP
Maka, perubahan konsep keadilan dari retributif kepada komutatif dan terakhir kepada keadilan restoratif, telah dianut dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia. Ketentuan mengenai ”ganti rugi” bagi pihak yang diirugikan karena tindakan penangkapan atau penahanan oleh penyidik (Pasal 98 KUHAP) melalui mekanisme pra-peradilan. Undang-undang tentang Perlindungan Saksi Pelapor dan Korban; Ketentuan mengenai kompensasi dan restitusi dalam UU Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme; UU Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM; UU Nomor 31 tahun 1999 yang diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.


DAFTAR PUSTAKA

Clive Walker dan Keir Steimer, “Miscarriage of Justice; Blackstone Press Ltd, 1999.

Lawrence M.Friedman, “Total Justice”; Russel-Sage Foundation; 1994

P.J.P.Tak, “The Dutch Criminal Justice System”;Boom Juridische Uitgever; 2003.

Caherine Elliot, “French Criminal Law”; Wilan Publishing Coy; 2003; page………..
Braithwaite,di dalam karyanya, ” Shame and Integration Process”

Dekalarasi Universal Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Asasi Manusia(1948)

Bab XA UUD 1945, substansi Bab 28 A sd 28 I, dan Bab 28 J.

J.Remmelink, “Hukum Pidana”:Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari KUHP Belanda dan Padanannya dalam KUHP Indonsia”; Gramedia, 2003; Sudarto, “Hukum dan Hukum Pidana; 1963.

P.J.P.Tak, “The Dutch Criminal Justice System”;Boom Juridische Uitgevers; 2003

The Dutch Penal Code, translated by Louise Rayar & Stafford Wadsworth; Rothman & Co, Coloradi, 1997.


Catatan Kaki :

[1] Salah satu Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah & Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Angkatan Pertama (2009/2010)

[2] Guru besar Hukum pidana Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung

[3] Konsep Sistem Peradilan Pidana atau “ Criminal Justice System”, yang terkenal dari Packer(1968), yaitu, model “Crime Control”, dan “Due Process” yang merupakan model antinomy normative. Selain itu, diakui, model rehabilitatif (Rehabilitative model), dari Griffith(1970); model birokratik (bureaucratic model) dari Reine (1993), dan model resotratif (restorative justice) dari Wright(1996),Fenwick(1997) [dikutip dari Clive Walker dan Keir Steimer, “Miscarriage of Justice; Blackstone Press Ltd, 1999;p.40].

[4] Lawrence M.Friedman, “Total Justice”; Russel-Sage Foundation; 1994: p.80-81

[5] P.J.P.Tak, “The Dutch Criminal Justice System”;Boom Juridische Uitgever; 2003; p.30

[6] ibid.,

[7] Caherine Elliot, “French Criminal Law”; Wilan Publishing Coy; 2003; page......

[8] Catherine Elliot, op cit.; p.11-12

[9] Braithwaite,di dalam karyanya, ” Shame and Integration Process”

[10] Perhatikan dan baca, Dekalarasi Universal Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Asasi Manusia(1948); bandingkan dengan

[11] Perhatikan dan bacan, Bab XA UUD 1945, substansi Bab 28 A sd 28 I, dan Bab 28 J.

[12] J.Remmelink, “Hukum Pidana”:Komentar atas Pasal-Pasal Terpenting dari KUHP Belanda dan Padanannya dalam KUHP Indonsia”; Gramedia, 2003; Sudarto, “Hukum dan Hukum Pidana; 1963.

[13] Aristoteles membedakan beberapa jenis keadilan: keadilan retributive, distributive, komutatif, dan rehabilitatif. Keadilan distributif dan komutatif berbeda secara substansial dengan keadilan retributif yang masih bertumpu pada ajaran kantianisme. Keadilan distributif dan komutatif merupakan bentuk keadilan yang memberikan toleransi kepada pertimbangan kemanusiaan dengan menekankan kepad a kewajiban seseorang untuk mereparasi (memperbaiki) kesalahan yang telah dilakukannya dengan memberikan sejumlah ganti kerugian kepada pihak korban. Konsep keadilan mutakhir terutama setelah munculnya pendekaran perlindungan HAM, adalah keadilan restoratif, yaitu menitikberatkan kepada ”pemulihan keseimbangan hubungan antara pelaku dan korban dalam satu kesatuan kehidupan kemasuyarakatan”. Prinsip keadilan restoratif , mirip dengan prinsip keadilan komutatif.

[14] P.J.P.Tak, “The Dutch Criminal Justice System”;Boom Juridische Uitgevers; 2003;p.21

[15] The Dutch Penal Code, translated by Louise Rayar & Stafford Wadsworth; Rothman & Co, Coloradi, 1997 p.87.

 
Copyright © 2015 M. Jamil, S.H.. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by www.phylopop.com