Follow Me

Google+ Followers

Like Fun Page

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Translate

Peringatan HUT Ke-5 FIMNY

Landasan Pemikiran:
Pelajar dan Mahasiswa sebagai civitas dan pelaku pendidikan merupakan sumber daya potensial yang secara bertanggung jawab di tuntut harus menyiapkan diri dan mengembangkan diri selaku kader penerus dan pelaku pembangunan dimasa yang akan datang. Berkenaan dengan itu, sebagai generasi muda harus siap menghadapai tantangan dan perkembangan jaman serta kemajuan teknologi yang semakin pesat. Dengan mengembangkan potensi diri yang dirasa ini belum maksimal dikembangkan sehingga kemudian dapat dimanfaatkan dan di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Potensi diri tersebut mencakup dalam bidang pengembangan Intelektual dan juga kemampuan di bidang olahraga. Dua hal di atas kita semua menyadari bahwa betapa pentingnya Potensi intelektual dan pengembangan olahraga dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan olahraga yang teratur maka akan berakibat positif terhadap tingkat perkembangan daya pikir manusia serta mampu meningkatkan kecerdasan emosional seseorang.

Mengingat betapa besar peranan pelajar dan mahasiswa dalam kancah pembangunan mendatang, maka dalam menyiapkan dan membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan berkualitas. Dengan ini Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakata (FIMNY) Bima yang bertujuan mewadahi terciptanya pemuda dalam mengembangkan kreatifitas Intelektual dan hubungan tali Persaudaraan di kota merantau yang berada di Yogyakarta, khususnya warga Bima NTB serta mahasiswa pada umumnya bisa berbaur dengan masyarakat Yogyakarta (Pribumi).

Oleh karena itu, kami dari Forum ini ingin membahana di Bumi Yogyakarta yang ramah akan lingkungan, Kota Pendidikan, Kota Budaya dan Miniatornya Indonesia. Maka kami ingin membangun kreatifitas dengan mengadakan sebuah Seminar Nasional, Turnamen Futsal, Turnamen Voly, Turnamen Bola Mini, Refleksi HUT FIMNY dan Doa Bersama dengan semangat Pengembangan Intelektual, Semangat Persaudaraan, Semangat junjung tinggi Sportifitas, Solidaritas dan sebagainya. Atas dasar pemikiran diatas, untuk meningkatkan prestasi pelajar dan mahasiswa Bima NTB serta mahasiswa pada umumnya yang berada di Yogyakarta sebagai aset potensial untuk Masyarakat, Agama, Bangsa dan Negara. Kami mengadakan beberapa kegiatan dengan tema : “Meningkatkan Semangat dan Kreatifitas Intelektual Serta Nilai-Nilai Kebersamaan”, dengan tema ini kami benar-benar mengharapkan pemuda yang potensial dan kreatifitas yang bijaksana dalam mengembankan tugas dan tangung jawab dalam segala bidang.


Tujuan Kegiatan:
1. Mewujudkan pemuda intelektual yang mempunyai wawasan keilmuan.
2. Meningkatkan rasa kebersamaan di kota merantau dalam berkreatifitas dan inofasi.
3. Mempererat tali silaturrahmi antar saudara-saudari Bima NTB yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarata.
4. Mempererat tali silaturahmi antar mahasiswa dan umum yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarata.
5.  Kawara Angi (Saling Mengingatkan)

Bentuk Kegiatan dan Bentuk Pelaksanaan:
1.  Seminar Nasional  dilakasanakan pada :
Hari/Tanggal  : 18 Mei 2013
Tempat           : Ruang Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tema              : “Membuka Tabir Hitam Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia”.
Pemateri :
a. Rudianto, Bc.IP.,SH.,M.Hum (Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta) [OK]
b. Eko Prasetyo,SH (Ketua PUSHAM UII) [OK]
c. Rio Rama Baskara,SH (Pengacara Kasus LP Cebongan) [OK]

Moderator :
Sugiarto (Ketua Umum Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta) (OK)

Target Peserta : 200 orang

2. Turnamen Bola Voly dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu dan Minggu, 25 dan 26 Mei 2013
Tempat          : Komplek Brimob Yogyakarta
Target Peserta : 8 tim Putra dan 8 tim putri

3. Turnamen Bola Mini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu dan Minggu, 25 dan 26 Mei 2013
Tempat          : Komplek Brimob Yogyakarta
Target Peserta : 16 tim

4. Turnamen Futsal dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu dan Minggu, 01-02 Juni 2013
Tempat          : Lapangan Futsal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Target Peserta : 32 tim

5. Refleksi HUT FIMNY dan Do’a Bersama
Hari/Tanggal : Minggu, 02 Juni 2013
Tempat          : Aula Asrama Mahasiswa Sultan Abdul Kahir Bima Yogyakarta
Pemateri:
a. Zainudin, S.Fil., M.Si. (Staff Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Dalam Negeri/Pembina FIMNY)
b. Neni Iryani, S.Si. (Pembina FIMNY)


Sasaran Kegiatan:
Kegiatan ini diikuti oleh semua Keluarga Pelajara Mahasiswa Bima-NTB-Yogyakarata, dan semua mahasiswa yang berada di yogyakarta pada umumnya.


Tawaran untuk Donatur/Sponsorsip:
Dengan begitu banyak kegiatan yang rencana kami lakukan, sangat berharap ada para donator yang sudi kiranya membantu melancarkan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, dan tentunya dengan bapak/ibu danai kegiatan kami, pasti banyak manfaat yang bisa diuntungkan untuk mempromosi produk-produk usaha bapak/ibu pada acara tersebut. Untuk proposalnya bisa di lihat di link lampiran proposal di bawah ini.


LAMPIRAN PROPOSAL:

Sejarah Kerajaan Bima (Mbojo)

Peristiwa Penting Menjelang Berdirinya Kerajaan.
1.Kehadiran sang Bima pada abad 11 M, ikut membantu para ncuhi dalam memajukan Dana Mbojo. Sejak itu, ncuhi Dara dan ncuhi-ncuhi lain mulai mengenal bentuk pemerintahan kerajaan. Walau sang Bima sudah kembali ke kerajaan Medang di Jawa Timur, namun tetap mengadakan hubungan dengan ncuhi Dara. Karena istrinya berasal dari Dana Mbojo Bima.
2.Sebelum mendirikan kerajaan, semua ncuhi sepakat membentuk kesatuan wilayah di bawah pimpinan ncuhi Dara.
3.Setelah puluhan tahun berada di Jawa Timur, sang Bima mengirim dua orang putranya, yang bernama Indra Zamrud dan Indra Kumala ke Dana Mbojo. Indra Zamrud dijadikan anak angkat oleh ncuhi Dara. Sedangkan Indra Kumala menjadi anak angkat ncuhi Doro Woni. Seluruh ncuhi sepakat untuk mencalonkan Indra Zamrud menjadi Sangaji atau Raja Dana Mbojo. Sedangkan Indra Kumala dicalonkan untuk menjadi Sangaji di Dana Dompu.

Kerajaan Dana Mbojo Berdiri Pada Pertengahan Abad 11 M.
1.Indra Zamrud di tuha ro lanti atau dinobatkan menjadi Sangaji atau Raja yang pertama.
Setelah Indra Zamrud dewasa dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas dalam bidang pemerintahan, maka pada akhir abad 11 M, ia di tuha ro lanti oleh Ncuhi Dara. Dengan persetujuan semua ncuhi, untuk menjadi Sangaji atau Raja Dana Mbojo yang pertama. Dengan demikian berakhirlah jaman ncuhi. Masyarakat Mbojo Bima memasuki jaman baru, yaitu jaman kerajaan. Pimpinan pemerintahan bukan lagi dipegang oleh ncuhi, tetapi dipegang oleh Sangaji atau Raja.
2.Nama Kerajaan.
Sejak berdirinya kerajaan di sekitar pertengahan abad 11 M, Dana Mbojo memiliki dua nama. Kerajaan yang baru didirikan itu, oleh para ncuhi bersama rakyat diberi nama Mbojo. Sesuai dengan kesepakatan mereka dalam musyawarah di Babuju. Tetapi oleh orang-orang Jawa, kerajaan itu diberi nama Bima. Diambil dari nama ayah Indra Zamrud yang berjasa dalam merintis pendirian kerajaan. Sampai sekarang Dana Mbojo mempunyai dua nama, yaitu Mbojo dan Bima.
Dalam masa selanjutnya, Mbojo bukan hanya nama daerah, tetapi merupakan nama suku yang menjadi penduduk di Kabupaten Bima dan Dompu sekarang. Sedangkan Bima sudah menjadi nama daerah bukan nama suku.
Pada masa kesultanan, suku Mbojo membaur atau melakukan pernikahan dengan suku Makasar dan Bugis. Sehingga adat istiadat serta bahasanya, banyak persamaan dengan adat istiadat serta bahasa suku Makasar dan Bugis.
Dou Mbojo yang enggan membaur dengan suku Makasar dan Bugis, terdesak ke daerah Donggo atau pegunungan. Oleh sebab itu, mereka disebut Dou Donggo atau orang pegunungan. Dou Donggo mempunyai adat istiadat serta bahasa yang berbeda dengan dou Mbojo.
Dou Donggo bermukim di dua tempat, yaitu disekitar kaki Gunung Ro'o Salunga di wilayah Kecamatan Donggo sekarang dan di kaki Gunung Lambitu di wilayah Kecamatan Wawo sekarang. Yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Ro'o Salunga, disebut Dou Donggo Ipa (orang Donggo seberang), sedangkan yang berada di kaki Gunung Lambitu, disebut Dou Donggo Ele (orang Donggo Timur).

Masa Pertumbuhan
Setelah dilantik menjadi Sangaji atau raja, Indra Zamrud berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh memajukan kerajaannya. Dalam membangun kerajaan, Indra Zamrud dibantu oleh para ncuhi. Terutama ncuhi Dara, ncuhi Parewa, ncuhi Doro Woni, ncuhi Bolo dan ncuhi Bangga Pupa.
Mungkin ada diantara kita yang bertanya. Apakah pada masa Inda Jamrud belum ada perdana menteri dan pejabat lain ?. Ahli sejarah belum menemukan bukti atau keterangan tertulis, tentang adanya pejabat seperti -perdana menteri dan pejabat lain pada masa Indra Zamrud.
Jabatan seperti tureli Nggampo atau Ruma bicara (perdana menteri), ireli (menteri), Rato, Jeneli, Gelarang dan jabatan lain, mulai populer pada masa sangaji Manggampo Donggo ( sangaji ke 10). Pada masa itu, ada Tureli Nggampo atau Ruma Bicara yang terkenal, bernarna Bilmana kakak dari sangaji Manggampo Donggo.
Sebagai sangaji yang baru di tuna ro lanti, maka Indra Zamrud melakukan pembangunan dalam berbagai bidang, seperti antara lain:
1.Bidang agama/kepercayaan.
Biarpun pengaruh kerajaan Medang (Jawa Timur) amat besar, namun Indra Zamrud tidak memaksakan rakyatnya menganut agama Hindu, seperti agama yang dianut oleh kerajaan Medang.
Rakyat tetap menganut kepercayaan makamba makimbi. Para ncuhi berfungsi sebagai peminipin agama. Sangaji bersama rakyat terus mengamalkan falsafah dan pandangan hidup lama.
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Indra Zamrud tetap berdasarkan falsafah maja labo dahu, serta asas mbolo ro dampa dan karawi kaboju. Sangaji harus berperan sebagai hawo ro ninu atau pengayom dan pelindung rakyat. Dalam membangun negeri, sangaji bersama rakyat harus tahan Uji dan ulet. Mereka harus pantang menyerah, sesuai dengan falsafah "Su'u sa wa'u sia sa wale" (walau bagaimana berat tugas yang dijunjung dan dipikul, rakyat harus melaksanakanilya).
2.Bidang Ekonomi.
Indra Zamrud berusalia keras meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Guna mewujudkan cita-cita, ia giat memajukan pertanian, peternakan serta pelayaran dan perniagaan.
Hasil pertanian dan peternakan kian bertambah. Kemakmuran dan kesejahteraan rakyat meningkat. Bahaya kemiskinan dan kelaparan tidak terjadi.
Dibidang pelayaran dan perniagaan mengalami hal yang sama. Pelayaran dan perniagaan bertambah maju. Pelabuhan Mbojo ramai dikunjungi para pedagang dan musafir, dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka datang membeli hasil bumi Dana Mbojo, seperti kuda, kerbau, kayu kuning, kayu sopang, rotan dll. Selain menjual hasil buminya, rakyat dapat pula membeli berbagai jenis barang dari para pedagang dan musafir. Berbagai hasil pertukangan atau industri yang indah dan mahal, mereka beli dari para pedagang yang datang ke Dana Mbojo. Barang-barang yang mereka beli antara lain, berbagai jenis keramik, perhiasan dari emas, Perak, kain sutera dan berbagai jenis senjata.
Indra Zamrud dengan bantuan para ncuhi dan dukungan rakyat, telah berhasil meletakkan dasar yang kokoh bagi kehidupan kerajaan. Setelah ia wafat, perjuangannya diteruskan oleh anak cucunya. Sangaji Batara Indra Bima, Batara Sang Luka, Batara Bima, serta Maha Raja Indra Terati melanjutkan perjuangan Indra Zamrud, dalam membangun dou labo dana (rakyat dan negeri).
Kapan Indra Zamrud wafat, tidak dapat diketahui dengan pasti. Walau demikian, ia telah berhasil meletakkan dasar yang kuat bagi kehidupan kerajaan. Pada masa itu kerajaan Mbojo, bagaikan sebatang pohon yang bukan dalam keadaan ncuhi atau ncuri. Melainkan sudah tumbuh tegar berbatang dan berakar kuat, berdaun dan beranting yang indang dan rimbun.

Kerajaan Mengalami Kejayaan.
Pada masa pemerintahan sangaji Manggampo Jawa, di sekitar abad 14 M, kerajaan Mbojo Bima mengalami kemajuan yang amat pesat. Manggampo Jawa adalah putra sangaji Indra Terati dengan permaisuri yang berasal dari bangsawan Majapahit. Itulah sebabnya Manggampo Jawa menjalin kerja sama dengan Majapahit dalam membangun kerajaan.
Dalam rangka meningkatkan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, Manggampo Jawa mendatangkan para ahli dari Majapahit, dibawah pimpinan Ajar Panuli.
Ajar Panuli dan kawan-kawannya, mengajarkan sastra jawa kepada para pembesar istana dan rakyat. Mulai saat itu, rakyat mengenal tulisan, Menurut ahli sejarah, pada masa itu pula sangaji Manggampo Jawa, merintis penulisan naskah kuno yang bernama "bo". Sayang naskah kuno bo yang ditulis pada masa Manggampo Jawa, sudah tidak ada lagi. Bo yang merupakan sumber sejarah yang masih ada sekarang, berasal dari bo yang ditulis pada masa kesultanan.
Selain berjasa dalam bidang sastra. Ajar Panuli berhasil memajukan ilmu teknologi. Ia mengajarkan cara pembuatan batu bata dan pembuatan keris serta tombak.
Pada masa pemerintahan Batara Indra Luka putra Manggampo Jawa, hubungan dengan Majapahit masih terjalin dengan intim. Begitu pula pada masa pemerintahan sangaji Maha Raja Indra Seri, putra dari Batara Indra Luka.
Ketika pemerintahan sangaji Ma Wa'a Paju Longge, putera dari Maha Raja a Indra Seri, hubungan dengan Majapahit terputus. Sebab pada saat itu Majapahit sudah mengalami kemunduran. Karena terjadi perang saudara yang berkepanjangan, setelah wafatnya Gajah Mada pada tahun 1364.
Ma Wa'a Paju Longge yang, memerintah di sekitar abad 15 M, meningkatkan hubungan dengan kerajaan Gowa. Pada saat itu kerajaan Gowa, sedang berada dalam jaman kejayaan, di bawah raja Imario Gau Tumi Palangga.
Ma Wa'a Paju Longge pergi ke Gowa untuk mempelajari ilmu pemerintahan dan ilmu-ilmu yang lain. Kemudian ia mengirim dua orang saudaranya, yang bernama Bilmana dan Manggampo Donggo ke Gowa.
Sejak itu sistim politik pemerintahan, pertanian, pertukangan dan pelayaran serta perniagaan, mengikuti sistim yang berlaku di Gowa. Seni budaya Gowa ikut pula mempengaruhi seni budaya Mbojo Bima.
Setelah sangaji Ma Wa'a Paju Longge mangkat, ada satu peristiwa yang menarik untuk dijadikan contoh bagi generasi muda.
Menurut ketentuan yang berlaku, apabila sangaji yang mangkat tidak mempunyai putera, maka yang menggantikannya adalah saudaranya yang tertua. Ketentuan itu terpaksa dilanggar oleh Bilmana dan Manggampo Donggo.
Dengan penuh keikhlasan, Bilmana menyerahkan jabatan sangaji kepada adiknya Manggampo Donggo. Ia sendiri memegang jabatan Tureli Nggampo (perdana menteri). Hal ini dilakukan demi rakyat dan negeri. Karena Manggampo Donggo memiliki bakat dan keahlian untuk menjadi sangaji. Sedangkan Bilmana cocok untuk menjadi Tureli Nggampo. Kebijaksanaan ini diperkuat dengan sumpah yang bernama sumpah Bilmana dan Manggampo Donggo. Sejak itu keturunan Manggampo Donggo menjadi raja dan sultan. Sebaliknya, anak cucu Bilmana menjadi Tureli Nggampo atau Ruma Bicara.
Manggampo Donggo bersama Bilmana, bahu membahu membangun kerajaan. Mereka berjuang tanpa kenal menyerah.
Pertanian dan peternakan dikembangkan. Daerah pertanian dan peternakan diperluas. Keduanya mencetak sawah-sawah baru yang subur. Sebagian sawah untuk kepentingan kerajaan dan sebagian untuk rakyat. Daerah yang tidak cocok untuk pertanian, dijadikan daerah peternakan.
Sistim pemerintahan, disempurnakan dan disesuaikan dengan sistim yang berlaku di kerajaan Gowa. Selain sangaji dan Tureli Nggampo, diangkat pula tureli (menteri), jeneli (camat), gelara (kepada desa).
Pelayaran dan perniagaan pun berkembang dengan pesat. Kapal dan perahu ditingkatkan jumlah dan mutunya. Mengikuti ilmu pelayaran dan perniagaan kerajaan Gowa.
Keamanan kerajaan ditingkatkan pula. Angkatan Darat dan Laut diperbaharui. Panglima perang dipegang oleh Bumi Renda, yang merangkap sebagai panglima angkatan darat. Angkatan laut dipimpin oleh seorang laksamana yang disebut Pabise.
Usaha yang dilakukan oleh dua bersaudara, berhasil dengan sukses. Sehingga pada akhir abad 15, kerajaan Mbojo menjadi pusat perniagaan yang ramai di wilayah Nusantara bagian Timur, selain Gowa dan Ternate. Pada saat itu, kerajaan Mbojo menjadi gudang beras selain Lombok.
Perkembangan dalam bidang sastra dan seni budaya pun cukup cerah. Manggampo Donggo memperkenalkan aksara yang dipelajari dari Gowa. Aksara itu akhirnya menjadi aksara Mbojo.
Manggampo Donggo melanjutkan penulisan Bo dengan aksara Mbojo.
Seni budaya dari Gowa, dipelajari dan dikembangkan ditengah masyarakat. Sehingga lahir seni budaya Mbojo, yang banyak persamaan dengan seni budaya Makasar dan Bugis.
Wilayah kekuasaan kerajaan Mbojo Bima, terbentang luas dari P. Satonda di sebelah barat sampai ke Alor Solor di sebelah Timur. Perluasan wilayah dilakukan oleh La Mbila putera Bilmana.
Kejayaan kerajaan Mbojo Bima, terus bertahan sampai pada sangaji Ma Wa'a Ndapa mangkat, putera Manggampo Donggo disekitar abad 16 M.
E.Kerajaan Mbojo Bima Mengalami Kemunduran.
Setelah sangaji Ma Wa'a Ndapa mangkat, maka cahaya kejayaan kerajaan mulai redup dan akhirnya padam.
Pasti ada dikalangan generasi muda yang bertanya keheranan. Kenapa terjadi petaka di kerajaan yang jaya dan besar itu ?. Apakah karena diserang oleh musuh dari luar atau karena ada pemimpin dan rakyat yang berkhianat ?.
Timbulnya petaka bukan karena serangan musuh dari luar, tetapi karena ada musuh dalam selimut. Salah seorang putera raja Ma Wa'a Ndapa yang bernama Salisi berkhianat kepada don labo dana (rakyat dan negeri). Ia berambisi menjadi Sangaji. Untuk mewujudkan ambisinya, Salisi membunuh Sangaji Samara kakaknya sendiri. Kemudian, ia membunuh Jena Teke (putera mahkota ) di padang perburuan mpori Wera.
Walau demikian Salisi tidak berhasil mewujudkan cita-citanya. Majelis Hadat bersama seluruh rakyat mengangkat Sawo (Asi Sawo) menjadi Sangaji. Salisi bertambah kecewa, ia menunggu waktu yang tepat guna mewujudkan cita-citanya.
Pada masa pemerintahan Sangaji Asi Sawo, untuk sementara waktu Salisi berdiam diri, guna menyusun kekuatan. Pada tahun 1605, Salisi menjalin kerja sama dengan Belanda di pelabuhan Ncake (wilayah desa Roka Kecamatan belo / Pali Belo sekarang). Kerja sama itu dinyatakan dalam satu perjanjian yang disebut perjanjian Ncake.
Saat yang dinanti-nanti oleh Salisi tiba. Ketika Sangaji Asi Sawo mangkat, Salisi berusaha untuk membunuh putera Asi Sawo yang bernama La Ka'i, yang sudah diangkat oleh Majelis Hadat sebagai Jena Teke.
Suasana istana dan seluruh negeri kembali kacau. La Ka'i bersama pengikut Iari meninggalkan istana. Pergi bersembunyi di desa Teke (Kecamatan Belo / Pali Belo sekarang), kemudian pindah ke dusun Kalodu yang berada di tengah hutan belantara.
Dengan bantuan Belanda, untuk sementara Salisi berhasil menguasai istana. Kemarahan dan kebencian rakyat kepada Salisi kian berkobar. Mereka terus menyusun kekuatan untuk mengembalikan La Ka’i ke tahta kerajaan.
Akibat ulah Salisi, akhirnya kerajaan Mbojo Bima mundur dan kacau. Rakyat menderita lahir bathin. Perjuangan seluruh sangaji dan rakyat pada masa lalu dikhianati Salisi yang bekerja sama dengan Belanda.
Pengaruh Agama Hindu di Kerajaan Mbojo Bima.
Sampai sekarang belum ada bukti, bahwa masyarakat pada masa kerajaan menganut agama Hindu. Kendati pada masa kerajaan, hubungan Mbojo Bima dengan kerajaan Medang, Kediri, Singosari dan Majapahit amat intim, namun masyarakat tidak merubah kepercayaannya.
Selama berlangsungnya hubungan dengan kerajaan di Jawa, sangaji dan rakyat hanya berguru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang agama mereka tetap menganut kepercayaan makamba makimba.
Kepercayaan makamba makimbi baru ditinggalkan oleh sangaji dan seluruh masyarakat setelah datangnya pengaruh agama Islam. Terutama setelah berdirinya kesultanan pada tahun 1640 M. Itulah sebabnya, maka agama Hindu tidak berpengaruh dikalangan masyarakat Mbojo Bima.
Mungkin sampai di sini saja cerita singkat Sejarah Kerajaan Bima (Mbojo) karma ini hanya sebatas pengetahuan pnulis. Mungkin dengan adanya satu baris tulisan ini kita sedikit bias tahu bagaima sejarah Mbojo itu sendiri. Dan bagi teman teman-teman Mbojo yang lebih tahu bagaimana itu sejarah Mbojo dapat memberikan Kritik dan saran untuk penulis demi memperbaiki tulisan-tulisan artikel sejarah Mbojo yang akan datang.

Daftar Pustaka:
M. Hilir Ismail. 1996. Sejarah Mbojo Bima. Mataram: Agung Perdana.

Aku dan Saya?

Oleh : M. Jamil UH[1]

Dewasa ini makna AKU dan SAYA hampir tidak lagi ditempatkan ditempat yang seharusnya, berbicara dengan sapaan aku pada seseorang yang umurnya di atas kita bahkan jauh lebih tua dari kita, itu pun masih banyak yang melontarkan sapaannya dengan kata AKU. Apakah teman-teman tahu apa itu perbedaan dari kata AKU dan kata SAYA ? mungkin secara sederhana pasti semua tahu apa itu makna sapaan dengan kata AKU dan kata SAYA. Apabila ada teman-teman atau adik-adik yang belum tahu sepenuhnya menempatkan kata aku dan kata saya, kini penulis akan mencoba menjawab sebisa penulis, dan bila ada kesalahan atau pun kekeliruan dalam mendefinisikan kata AKU dan kata SAYA, mohon teman-teman beri masukan atau perbaiki kata-kata saya nantinya. Okey…
Agar lebih bisa kita bedakan kata AKU dan kata SAYA, maka penulis mencoba uraikan sebagai berikut:
1.        Menurut Penulis bahwasannya kata AKU itu biasanya sapaan seseorang karib pada seseorang karib lainnya yang seumuran dengannya, atau sapaan seseorang kepada orang yang dibawah umurnya. Gimana ? Apakah teman-teman atau adik-adik mengerti apa yang saya uraikan diatas? Kalau belum mengerti yang saya maksudkan di atas sungguh TERLALUU,,hehe.. bercanda,,,, gini maksudnya perkataan AKU biasanya atau sewajarnya atau selayaknya itu kita lontarkan kepada teman sebaya kita, atau sapaan kita untuk para adik-adik kita (yang umurnya dibawah umur kita).
2.        Sedangkan kata SAYA, menurut penulis kata saya itu biasanya sapaan seseorang pada seseorang yang umurnya diatas umur kita, atau sapaan seseorang kepada orang yang lebih tua dari kita. Gimana ? Apakah teman-teman atau adik-adik mengerti dengan apa yang penulis uraikan diatas? Kalau belum mengerti juga bahwasannya kata SAYA itu sapaan kita kepada kakak kita, bapak kita, ibu kita, nenek kita, kakek kita, paman kita, bibi kita, dan lain-lain yang umurnya di atas kita.
Itulah uraian sederhana yang bisa penulis suguhkan terkait makna AKU dan SAYA, mudah-mudahan dengan uraian sederhana yang penulis paparkan diatas, paling tidak bisa sedikit kita membedakan penempatan kata AKU dan kata SAYA dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.
Ada beberapa kasus yang sering penulis jumpai dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. KASUSNYA SEPERTI INI, pada suatu hari ketika dalam ruangan kuliah, dalam keasikan mendengarkan ceramah yang diuraikan oleh salah satu dosen pada saat kuliah, setelah dosennya menjelaskan pancang lebar terkait materi tersebut lalu dosen itu untuk sementara menyudahi ceramahnya lalu menanyakan pada para mahasiswa-mahasiswanya. Mahasiswa-mahasiswi ku sekalian apakah dalam penyampaian materi yang saya jelaskan dari tadi masih ada yang belum jelas atau masih ada yang ingin kalian tanyakan terkait masalah itu?? Penanya pertama mengangkat tangan tanda dia ingin menanyakan[2] sesuatu, gini pak, SAYA mau tanya sama bapak terkait apa yang bapak jelaskan dari tadi di atas…………. (dan seterusnya…). Setelah beberapa saat kemudian, lalu angkat tangan salah satu mahasiswa lagi, tanda bahwasannya dia juga ingin menanyakan sesuatu, lalu dia bertanya, seraya dia berdiri, pak AKU tuh mau bertanya ke bapak, gini pak AKU masih bingung dengan penjelasan bapak dengan poin yang ini[3]…………….(dan seterusnya….), coba jelaskan lagi agar AKU bisa memahaminya.
Itulah segelintir kasus yang sering penulis jumpai dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, kalau kita menilainya sekejap dari kasus diatas tentu tidak ada suatu masalah yang perlu dibincangkan, tetapi kalau kita menelaah lebih teliti dari apa yang penulis sampaikan diatas, pastilah ada suatu perbedaan yang sangat tinggi nilainya, tutur katanya, cara penyampaian bahasanya.
Dalam bahasa keseharian dikampung[4] halaman saya bahwasannya perbedaan antara makna AKU (nahu[5]) dan SAYA (mada) itu sangan kental pemaknaannya, karna dari cara tutur sapa yang akan dilontarkan, itulah yang akan jadi penilaian tersendiri dalam hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat di masyarat Bima.  
Akhir kata, harapan penulis, semoga dari apa yang penulis gambarkan diatas bisa menyadarkan diri saya pribadi dan semua orang yang akan membaca ini. Terimakasih dan sampai jumpa di tulisan-tulisan saya selanjutnya.

[1] Adalah salah satu Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga sebagai darah kelahiran Bima NTB, aktif diberbagai organisasi Intra dan Ekstra Kampus, diantaranya : Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (BEM-PS IH UIN SUKA)., Pusat Studi dan Konsultasi Hukum (PSKH Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Himpunan Mahasiwa Hukum Indonesia (PERMAHI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII Rayon Ashram Bangsa), Forum Intelektual Muda Ncera Yogyakarta (FIMNY), dan Forum Intelektual Mahasiswa Bima Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (FIMBi UIN SuKa).
[2] Dalam tulisan kali ini penulis tidak bermaksud menjelaskan apa yang ditanyakan dalam kasus ini, tetapi penulis lebih menitikberatkan dari cara seseorang mahasiswa yang mengajukan pertanyaan kepada dosenya.
[3] Ibid.
[4] Penulis adalah kelahiran Indonesia bagian timur, tepatnya di Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat, tentunya masih diwilayah Indonesia, hehe.
[5] Nahu (bahasa daerah Bima) dalam arti bahasa Indonesia-nya AKU, biasanya orang Bima memakai kata tersebut ketika berbicara dengan karib kerabatnya yang seumuran, atau pada saat berbicara dengan orang-orang yang dibawah umurnya, tetapi kebanyakan juga walaupun berbicara dengan karib kerabatnya yang seumuran atau pada saat berbicara dengan adik-adiknya tetap menggunakan kata SAYA (dalam bahasa Bima-nya mada), itu merupakan bahasa halusnya, agar adik-adik terdidik dari awal bahwasannya dalam tingkah laku dalam hidup dan kehidupan itu ada tata karma dan sopan santunnya.

 
Copyright © 2015 M. Jamil, S.H.. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by www.phylopop.com